Malam Ini Ada Gerhana Bulan Total! Catat Kota-Kota yang Bisa Menikmati Fenomena Langit Bloodmoon Ini

Dalam satu tahun, minimal terjadi dua gerhana Bulan dan dua gerhana Matahari. Hal yang sama terjadi juga tahun ini. Di sepanjang tahun 2022 terjadi dua gerhana Matahari sebagian dan dua gerhana Bulan Total. Dua gerhana Matahari tersebut tidak tampak dari Indonesia, demikian juga Gerhana Bulan Total 16 Mei 2022 yang terjadi siang hari di Indonesia.

Gerhana Bulan Total 8 November 2022 menjadi gerhana Bulan Total kedua sekaligus terakhir tahun ini, dan gerhana terakhir dalam musim gerhana 2022. Yang menarik, Gerhana Bulan Total 8 November 2022 sekaligus menjadi gerhana Bulan Total terakhir yang bisa diamati karena Gerhana Bulan Total berikutnya baru akan terjadi lagi pada tahun 2025. Selama tahun 2023 dan 2024, pengamat di Bumi hanya akan menyaksikan Gerhana Bulan Penumbra dan Gerhana Bulan Sebagian.

Gerhana terakhir ini bisa diamati oleh pengamat yang berada di wilayah Indonesia. Tapi, ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Gerhana Bulan Total 8 November 2022 dimulai sebelum Bulan terbit di seluruh Indonesia. Jika demikian, ketika terbit, Bulan sudah mengalami gerhana. Dan wilayah Indonesia yang terbagi dalam tiga zona waktu akan melihat gerhana pada fase gerhana yang berbeda.

Gerhana Bulan

Gerhana Bulan terjadi saat Bumi menjadi penghalang cahaya Matahari untuk sampai ke Bulan. Akibatnya, tentu saja tidak ada cahaya yang diterima untuk dipantulkan kembali oleh Bulan. Bulan mengitari Bumi, dan itu artinya, ada saat di mana Bumi berada di antara Bulan dan Matahari.

Pada konfigurasi ini, Bulan berada pada fase Purnama. Hal ini terjadi rutin setiap bulan. Tapi, tidak setiap purnama terjadi gerhana karena Bumi tidak selalu sejajar dengan Bulan dan Matahari dan menyebabkan cahaya Matahari terhalang sampai ke Bulan. Hal ini disebabkan karena orbit atau lintasan Bulan mengitari Bumi memiliki kemiringan 5º sehingga saat fase Purnama, Matahari, Bumi, dan Bulan tidak selalu segaris atau sejajar. Jika Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar, maka Bulan akan masuk umbra atau bayang-bayang inti Bumi dan terjadilah gerhana.

Saat Bulan berada dalam bayang-bayang inti Bumi, Bulan tidak sepenuhnya menghilang. Memang seharusnya Bumi jadi gelap karena Bulan tidak menerima cahaya Matahari untuk dipantulkan.

Tapi kenyataannya tidak demikian.

Bulan tidak menghilang melainkan berwarna merah bak batu bata atau darah. Warna merah itu berasal dari cahaya Matahari yang bisa lolos melewati atmosfer Bumi dan mencapai Bulan.

Jadi, saat cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi, cahaya pada panjang gelombang hijau sampai ungu disebarkan dan disaring oleh atmosfer. Hanya cahaya merah yang bisa lolos melewati atmosfer dan menyinari Bulan meskipun sebagian cahaya merah tersebut ada yang dibiaskan atau dibelokkan.

Karena itu, kita bisa menyaksikan Bulan merah saat gerhana Bulan total.

Penampakan Gerhana Bulan Total

GBT 8 November 2022 bisa diamati dari Eropa Utara, Eropa Timur, Asia, Australia, Amerika Utara, sebagian besar Amerika Selatan, Pasifik, Atlantik, Lautan Hindia, Arktik, Antartika. GBT ini juga bisa diamati oleh pengamat yang ada di semua wilayah Indonesia.

Tapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Pengamat di Indonesia timur lebih beruntung karena Bulan terbit saat baru memasuki gerhana penumbra. Dengan demikian pengamat di area timur Indonesia bisa mengamati hampir seluruh fase gerhana. Sementara itu, untuk wilayah Indonesia tengah, Bulan terbit ketika Gerhana Sebagian berlangsung. Karena itu, pengamat di wilayah ini bisa menyaksikan sejak gerhana sebagian sampai akhir gerhana. Sedangkan untuk wilayah Indonesia barat, Bulan terbit sudah dalam kondisi gerhana total. Dan pengamat di wilayah barat bisa menyaksikan puncak GBT sampai gerhana berakhir.

Waktu Gerhana

Proses keseluruhan GBT 8 November 2022 berlangsung selama 5 jam 53 menit 51 detik sedangkan untuk gerhana total berlangsung selama 1 jam 24 menit 58 detik. Kontak pertama atau Gerhana penumbra dimulai pada pukul 15 :02 :15 WIB dan kontak terakhir penumbra yang mengakhiri seluruh proses gerhana pada pukul 20 :56 :09 WIB.

Sementara itu, kontak kedua saat Bulan memasuki umbra Bumi dan gerhana sebagian dimulai terjadi pada pukul 16 :09 :12 WIB dan gerhana total dimulai pukul 17 :16 :39 WIB sampai 18 :41 :36 WIB. Setelah gerhana total berakhir, Bulan pun meninggalkan umbra 

Bumi dan gerhana sebagian berakhir pada pukul 19 :49 :03 WIB. Puncak gerhana terjadi pada pukul 17 :59 :11 WIB.

Beberapa wilayah di Indonesia baru dapat mengamati Gerhana Bulan mulai pukul 16.08.59 WIB, 17.08.59 WITA, dan 18.08.59 WIT. Pada fase ini, Gerhana Bulan berada di fase Gerhana Sebagian.

Wilayah yang dapat menikmatinya adalah Papua, Papua Barat, sebagian Maluku Utara, dan sebagian Maluku.

Gerhana Total atau disebut U2 terjadi pada pukul 17.16.19 WIB, 18.16.19 WITA, dan 19.16.19 WIT. Fase ini hanya dapat diamati di wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTT, NTB, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat, dan sebagian Jawa Timur.

Puncak Gerhana sendiri akan terjadi sekitar pukul 17.59.11 WIB, 18.59.11 WITA, 19.59.11 WIT. Fase ini dapat diamati di hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu.

Setelah fase puncak, Gerhana memasuki fase akhir yang bisa dinikmati di seluruh wilayah Indonesia. Fase yang disebut U3 ini mulai pada pukul 18.42.03 WIB, 19.42.03 WITA, dan 20.42.03 WIT.

Di fase akhir, juga akan terjadi Gerhana Sebagian ( U4 ) pada pukul 19.49.22 WIB, 20.49.22 WITA, 21.49.22 WIT. Fase ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia.

Gerhana kemudian akan berakhir ( P4 ) pukul 20.57.43 WIB, 21.57.43 WITA, 22.57.43 WIT. Sama seperti fase akhir sebelumnya, fase final ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia.

Untuk menyaksikan fenomena Gerhana Bulan Total, masyarakat tak memerlukan alat khusus. Namun jika ingin melihatnya lebih detail, masyarakat perlu memakai alat bantu teropong.

“Kita tidak perlu menggunakan alat bantu optik, kecuali hendak mengabadikanya dalam bentuk citra atau rekaman video,” kata Andi Pangerang, Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN dikutip situs resminya.

Gerhana Bulan Total menyajikan perubahan warna pada satelit Bumi tersebut.

Saat puncaknya, Bulan akan redup menjadi warna kusam sebelum berubah menjadi merah darah, dan warnanya dapat bervariasi secara signifikan dari satu gerhana ke gerhana berikutnya tergantung pada partikel di atmosfer planet kita.

Awan abu yang dilemparkan ke stratosfer oleh letusan gunung berapi baru-baru ini di Kerajaan Tonga di Samudra Pasifik selatan, misalnya, dapat mengubah wajah bulan menjadi warna merah yang lebih dalam daripada Gerhana Bulan biasa.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *